Tampilkan postingan dengan label Kejawen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejawen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Januari 2014

Ojo Gumunan, Ojo Kagetan, lan Ojo Dumeh


JokoRowoTlogoRejo-Ojo Gumunan, Ojo Kagetan, lan Ojo Dumeh,Pandangan sekaligus panduan masyarakat Jawa dalam menjalani kehidupan yang mudah diucapkan namun sulit melaksanakannya. Kita pada umumnya cenderung memiliki ego, harga diri, emosi, dan rasa ingin tahu yang tinggi yang menyulitkan kita untuk menerapkan nilai filosofi tersebut. Di balik setiap budaya di Indonesia pasti terkandung nilai-nilai kebijaksanaan lokal, termasuk di antaranya budaya Jawa. Budaya Jawa yang sebagai salah satu budaya yang tertua di tanah air ini, juga mempunyai berbagai pepatah dan idiom yang berasal dari warisan ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Salah satunya yang paling tepat dengan kondisi sekarang ini adalah ungkapan “kuno” dari khasanah budaya Jawa, ojo gumunan, ojo kagetan, lan ojo dumeh.

Ojo gumunan, berasal dari kata ojo yang artinya jangan, dan gumunan, yang berasal dari kata gumun yang artinya heran. Ojo gumunan adalah bentuk larangan untuk tidak mudah kagum atau heran dengan perkembangan keadaan dan peristiwa atau benda yang terutama bersifat materi dan keduniawian. Masyarakat kita sekarang ini mudah sekali untuk gumun atau kagum terutama dengan berbagai bentuk pemberitaan atau tayangan melalui media massa. Kita juga gumun melihat kecanggihan teknologi negara lain, bahkan kemajuan ekonomi negara tetangga kita, Malaysia dan Singapura. Bentuk kegumunan dan kekaguman ini sayangnya hanya sebatas gumun. Sebagian besar dari kita hanya menjadi penonton, berdiri di pinggir, bertepuk tangan, kadang misuh (memaki) dan mengumpat, tanpa pernah bisa ikut menentukan hasil akhir.

Filsafat Jawa ojo gumunan, bermakna janganlah kita selalu terkagum-kagum dengan hasil orang lain sedangkan kita hanya sekedar menjadi penonton. Ojo gumunan juga bermakna kita harus selalu memperbaiki diri dan menyesuaikan diri dengan keaadan dan perubahan keadaan sekitar. Kita harus menjadi subjek dan bukan sekedar objek.

Filosofi ojo kedua adalah ojo kagetan. Makna harfiah dari ojo kagetan ini adalah jangan mudah kaget. Suka terkaget-kaget kah kita? Jawaban sebagian besar dari kita pasti YA!. Akhir-akhir ini banyak sekali peristiwa di negeri nusantara ini yang membuat seluruh penduduknya terkaget-kaget, baik peristiwa yang ditimbulkan oleh perseorangan, badan dan lembaga, juga yang lebih aneh lagi adalah pemerintah juga hobby membuat rakyatnya selalu terkaget-kaget dengan aneka kebijakan yang kemudian ditarik lagi atau tidak jelas implementasinya. Kita terkaget-kaget tatkala KPK tiba-tiba menangkap jaksa dan penyuapnya, juga terkaget-kaget ketika seorang anggota DPR terlibat dalam transaksi penyuapan bahkan video porno. Kita juga kaget ketika tanpa alasan tarif jalan tol tiba-tiba naik, bahkan harga cabe dan bawang putih juga melambung, dan semua alasannya karena BBM naik.

Filosofi ojo kagetan bermakna kita harus mawas diri terhadap perubahan sekeliling dan lingkungan kita. Ojo kagetan juga bermakna persiapan diri sendiri menghadapi perubahan sekeliling tanpa ikut berubah seperti sekeliling. Kalau kita sadar bahwa kita hidup di negeri yang serba ajaib dan aneh seperti Indonesia, maka seharusnya kita juga selalu mawas diri dan bersiap dengan aneka kejutan yang menyertai setiap perubahan. Dengan tidak terkaget-kaget terhadap kejutan-kejutan di sekeliling kita, kita akan lebih tegar dan sumeleh hidup di Indonesia.

Ojo Kagetan merupakan panduan agar kita selalu membabar terlebih dahulu terhadap segala yang terjadi. Analisis terlebih dahulu dari setiap masalah, baru tentukan strategi dan tindakan yang akan diambil untuk menyelesaikan masalah tersebut. Karena jika kita menyelesaikan dengan bersikap reaktif, maka kemungkinan besar keputusan maupun tindakan kita masih mentah dan tidak mampu menyelesaikan inti masalahnya. Tantangan terbesar dari penerapan pandangan hidup ini ialah emosi dan harga diri kita, yang bisa 'sak dheg sak nyet' ketika terjadi sesuatu hal yang sensitif disekeliling kita.

Ojo terakhir adalah ojo dumeh. Dumeh bermakna mentang-mentang atau sombong. Ojo dumeh artinya janganlah kita sombong dalam menghadapi lingkungan disekeliling kita. Sombongkah kita? Hanya orang lain dan bangsa lain yang bisa menilai bangsa kita ini dumeh atau tidak. Tapi sadar atau tidak, kesombongan ini sebenarnya juga kita jumpai dari perilaku kita sehari-hari. Dumeh atau mentang-mentang kita kaya, dengan seenaknya kita menghambur-hamburkan uang untuk belanja secara konsumtif di mall-mall mewah. Dumeh bisa membayar, kita menggunakan listrik dan BBM secara berlebihan dan hanya untuk konsumtif. Dumeh lebih pandai dari rata-rata rakyat Indonesia, kita melakukan pembodohan secara terus menerus dengan informasi-informasi yang membingungkan dan menyesatkan. Dumeh menjadi rakyat kecil, dengan seenaknya kita hanya bisa mengkritik dan mencaci maki para pimpinan, meski mereka kadang benar sekali pun.

Ojo dumeh adalah salah satu ajaran dasar leluhur kita untuk selalu melakukan introspeksi diri terhadap lingkungan, sesama manusia, dan juga kepada Sang Pencipta. Dengan tidak dumeh, maka kehidupan sebenarnya akan lebih baik dan lebih tentram. Ojo dumeh merupakan larangan agar kita jangan bersikap sombong, pamer mengenai segala sesuatu yang kita miliki. Seharusnya kita bersikap andap asor mring sapodho, atau bersikap rendah hati terhadap sesama. Segala yang kita miliki baik itu harta, jabatan, pengetahuan, maupun istri, anak, sanak saudara, ini hanyalah sementara, dan titipan dari Yang Maha Kuasa. Kita diamanahkan untuk mengamalkannya agar menjadi milik kita yang hakiki kelak di alam sesudah kita meninggalkan dunia fana ini.

Artikel Di Kutip Dari:===SINI===
Read More

Pemimpin Yang Seharusnya Menurut Filosofi Jawa


JokoRowoTlogoRejo-KONSEP hasthabrata muncul dalam cerita pewayangan Jawa dengan lakon 'Iwahyu Makutharama' yang mengisahkan tentang pemberian wejangan (fatwa) seorang Pandita bernama Wiswamitra yang ditujukan kepada Sri Rama yang akan dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahandanya.
Konon, ajaran hasthabrata tersebut selalu dipedomani untuk dijadikan fatwa terhadapputra mahkota yang akan dinobatkan menjadi raja-raja Jawa. Hasthabrata terdiri dari kata hastha yang berarti delapan dan kata brata yang berarti sifat baik.

Brata yang pertama adalah SURYA yang berarti matahari. Sifat menerangi yang dimiliki oleh matahari dalam bahasa jawa dimaknai sebagai 'gawe pepadang marang ruwet rentenging liyan' yang berarti harus mampu membantu mengatasi kesulitan atau memecahkan problem-problem yang dihadapi oleh anak buahnya.
Brata yang kedua adalah BAWANA yang berarti bumi. Bumi diibaratkan sebagai ibu pertiwi. Sebagai ibu pertiwi, bumi memiliki peran sebagai ibu, yang memiliki sifat keibuan, yang harus memelihara dan menjadi pengasuh, pemomong, dan pengayom bagi makhluk yang hidup di bumi. Implementasinya adalah kalau sanggup menjadi pemimpin harus mampu mengayomidan melindungi anak buahnya.

Brata yang ketiga adalah CANDRA yang berarti bulan. Implementasinya bagi pemimpin ialah pemimpin dalam memperlakukan anak buahnya harus dilandasi oleh aspek-aspek sosio-emosional. Pemimpin harus memperhatikan harkat dan mertabat pengikutnya sebagai sesama. Terhadap pengikutnya harus menghormati sebagai sesama manusia. Dalam konsep Jawa hal ini disebut 'nguwongke'.

Brata keempat adalah KARTIKA yang berarti bintang. Bintang dapat menggambarkan dambaan cita-cita, tumpuan harapan, sumber inspirasi. Seorang pemimpin harus memiliki cita-cita yang tinggi, berpandangan jauh kedepan, pemberi arah, sumber inspirasi, dan tumpuan harapan.
Brata yang kelima adalah TIRTA yang berarti air. Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan siapapun termasuk pengikutnya (adaptif). Air selalu mengalir ke bawah, artinya pemimpin harus memperhatikan potensi, kebutuhan dan kepentingan pengikutnya, bukan mengikuti kebutuhan atasannya.

Brata yang keenam adalah MARUTA, yang berarti angin. Secara alami angin memiliki sifat menyejukkan, angin membuat segar bagi orang yang kepanasan. Angin sifatnya sangat lembut. Seorang pemimpin harus bisa membuat suasana kepemimpinan sejuk, harmonis, dan menyegarkan.
Brata yang ketujuh adalah DAHANA, yang berarti api. Secara alami, api memiliki sifat panas, dan dapat membakar. Seorang pemimpim memiliki sifat pembakar semangat, pengobar semangat, dan memiliki peran sebagai motivator dan inovator bagi pengikutnya.

Brata yang kedelapan adalah SAMODRA, yang berarti lautan atau samudra. Pemimpin harus memiliki wawasan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam samudra. Samudra juga bersifat menampung seluruh air dan benda-benda yang mengalir kearah laut. Seorang pemimpin harus memiliki sifat menampung semua kebutuhan, kepentingan, dan isi hati dari pengikutnya, serta pemimpin harus bersifat aspiratif.

Dalam teori kepemimpinan yang lain ada beberapa filsafat lagi yang banyak dipakai, agar setiap pemimpin (Khususnya dari Jawa) memiliki sikap yang tenang dan wibawa agar masyarakatnya dapat hidup tenang dalam menjalankan aktifitasnya seperti falsafah: Ojo gumunan, ojo kagetan lan ojo dumeh.
Maksudnya, sebagai pemimpin janganlah terlalu terheran-heran (gumun) terhadap sesuatu yang baru (walau sebenarnya amat sangat heran), tidak menunjukkan sikap kaget jika ada hal-hal diluar dugaan dan tidak boleh sombong (dumeh) dan aji mumpung sewaktu menjadi seorang pemimpin.Intinya falsafah ini mengajarkan tentang menjaga sikap dan emosi bagi semua orang terutama seorang pemimpin.

Artikel Di Kutip Dari:===SINI===
Read More

Tebokan, Tak Sekadar Pesta Jenang


JokoRowoTlogoRejo-KEMERIAHAN dan kebersamaan itu menjadi satu paket dan tidak terpisahkan, dalam tradisi Tebokan Jenang yang merupakan tradisi di Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, setiap 1 Muharram. Itu pula yang nampak dalam kirab tebokan yang digelar Selasa (5/11) sore.
Mengambil star di Jalan Sosrokartono, ratusan peser5ta kirab melalui rute mengitari kampung. Tak hanya orang tua, pelajar dan mahasiswa juga ikut terlibat dalam tradisi tebokan yang secara rutin digelar besar-besaran sejak empat tahun terakhir.

Selain peserta kirab, masyarakat tak ketinggalan menyemarakkan dengan datang melihat langsung dari dekat prosesi kirab. Ribuan pasang mata mulai anak-anak, pelajar, muda-mudi, hingga orang tua tak mau ketinggalan menyaksikan kirab tersebut.
Kirab tebokan dimulai sekitar pukul 14.21, dibuka dengan group drum band yang cukup menawan. Disusul kemudian iring-iringan pembawa jenang dengan aneka hiasan, dan dimeriahkan dengan atraksi seni, seperti barongan, terbang papat, dan juga barongsai.

Di antara para peserta kirab, nampak pula satu sosok dengan menaiki kuda lengkap dengan blangkon dan jubah putih, yang tak lain memerankan sosok Syeh Jangkung yang oleh masyarakat setempat dipandang sebagai cikal bakal Desa Kaliputu dikenal sebagai desa produsen jenang.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Hadi Sucipto, mengemukakan, kirab tebokan ini merupakan puncak dari tradisi yang sudah lama berkembang di masyarakat setempat setiap memperingati 1 Muharram.

''Sebelumnya masyarakat menggelar tirakatan,'' katanya.
Dengan adanya kirab tebokan, diharapkan Desa Kaliputu sebagai produsen jenang, bisa lebih dikenal. ''Harapannya, ke depan pengusaha jenang di Kudus, khususnya di Desa Kaliputu, semakin dikenal lebih luas lagi,'' ungkapnya.

Kepala Desa Kaliputu, Suyadi, menjelaskan, tradisi tebokan ini sekaligus untuk mengenang Syeh Jangkung, yang dipercaya sebagai cikal bakal dikenalnya Desa Kaliputu sebagai produsen jenang.
''Konon, dulu ada anak dari Desa Kaliputu tenggelam di Kaligelis, yang kemudian ditolong Syeh Jangkung,'' terangnya.

Setelah ditolong, oleh Syeh Jangkung si anak diberi jenang gamping.
''Wolak-walike zaman, Desa Kaliputu sekarang dikenal sebagai gudangnya pengusaha jenang di Kudus. Saat ini, ada sekitar 50 pengusaha jenang di Desa Kaliputu,'' jelasnya.
Sementara itu, kirab tebokan yang mengelilingi kampung, Akhir dari kirab tebokan, pengunjung dan tamu yang hadir disuguhi Tari Jenang hasil kreasi dan dipersembahkan oleh para mahasiswa Stikes Muhammadiyah Kudus.

Artikel Di Kutip Dari:===SINI===
Read More

Persepsi Seks Jawa Klasik yang Mempunyai Daya 'Linuwih'


JokoRowoTlogoRejo-Ketika kita melihat ornamen Candi Sukuh, maka kita akan disuguhi dua tanda tentang sebuah kesuburan, yaitu lingga dan yoni. Lingga dan yoni merupakan simbol alat kelamin laki-laki dan perempuan yang saling berhadap-hadapan.

Hal ini menunjukkan bahwa kedua unsur tersebut selain menjadi unsur kenikmatan duniawi yang dicari, juga dianggap berkah yang mampu membiakkan manusia. Maka tidak mengherankan representasi Sukuh didefinisikan sebagai lambang kesuburan, sebagaimana Dewi Sri dan Sadhono yang memberi kesuburan pada padi, makanan utama orang-orang Jawa.

Pertemuan kelamin laki-laki dan perempuan, yang disebut seks diyakini mengandung makna yang lebih substansial yakni sebuah kekuatan. Karena mengandung unsur kekuatan maka orang Jawa jaman dahulu, percaya bahwa seks mempunyai daya linuwih yang tidak saja secara lahiriah menumbuhkan kenikmatan birahi tetapi juga dipercaya mampu meningkatkan kesaktian, kewibawaan, kebesaran dan menambah awet muda, bahkan sebagai salah satu jalan menuju nirvana, seperti pesta Saddha di jaman Kadhiri.

Maka seks menjadi amat penting dalam kehidupan manusia Jawa jaman dulu. Semakin tinggi aktivitas seks seseorang dianggap semakin tinggi kelebihan-kelebihan yang disandangnya.
Apakah pandangan seperti itu yang kemudian menjadikan seks bagi orang Jawa sebagai kebutuhan yang diterima apa adanya. Karena kebutuhan maka perilaku seks itu dianggap biasa-biasa saja. Bagi orang Jawa, seks itu kenikmatan yang dianugerahkan. Seks itu mendatangkan keberuntungan-keberuntungan. Tidak saja keberuntungan fisik tetapi juga kebrutungan rohani.

Maka perilaku seks itu sebagai kebutuhan normal sehari-hari, seperti makan dan minur. Akhirnya, seks lebih terbuka dan menjadi kebiasaan. Entah mampu menumbuhkan kekuatan atau sekedar pemuas nafsu, orang Jawa tak peduli. Sehingga orang Jawa tak terlalu pusing terhadap perilaku seks.
Mereka menganggap normal saja kalau ada orang yang secara suka rela, lega lila melakukan hubungan sebadan atas dasar saling suka. Itulah berkah. Itulah anugerah yang perlu dinikmati. Adapun dampak sosial-ekonomi yang mungkin ditimbulkannya, agaknya menjadi perhatian di urutan kedua.
Namun pada perkembangan selanjutnya, sejak kedatangan Islam dan Kristen, pengetahuan seks bagi orang Jawa berubah. Seks bukan saja dilihat sebagai pelepasan birahi namun juga berkah yang perlu dijalankan dengan benar yakni dengan tuntunan.

Tuntunan seks bagi oang Jawa sekarang tampak dalam wewaler “barang siapa yang melakukan laku guna meningkatkan kesaktian, kewibawaan bahkan mencapai surga dilarangan keras melakukan seks di luar nikah.” Dengan kata lain, semakin tinggi aktivitas seks di luar nikah semakin tinggi kehilangan daya linuwihnya. Ini jauh berbeda dengan pandangan orang Jawa jaman dahulu yang lebih longgar terhadap seks.
Meskipun berubah tetapi pandangan seks lama itu bagi masih banyak dianut oleh orang-orang Jawa. Memang sangat disayangkan bahwa seks kurang dipahami secara lebih ilmiah bahkan di-tabukan yang pada akhirnya seks dianggap “wilayah terlarang.” Akibatnya, seks yang semestinya perlu dipahami dengan tuntunan malah lebih dianggap sekedar pemuas nafsu birahi.

Dengan serta merta, seks hanya dipahami sebagai perilaku orgasme fisik. Pemerkosaan dan perilaku seks liar adalah bukti kelemahan tuntunan dan seks lebih dinikmati sebagai tontonan belaka.

Artikel Di Kutip Dari:===SINI===
Read More

Urusan Seks Yang Terbuka dalam Serat Centhini


JokoRowoTlogoRejo-Wanita Jawa, selalu digambarkan malu-malu, pendiam, sopan, sangat berbakti pada suami, dan tabu ketika membicarakan masalah kehidupan seksualnya. Namun tidak demikian halnya kalau kita membuka Serat Centhini, yang merupakan Kamasutra Jawa, yang mengupas masalah itu dengan lebih blak-blakan. Cetho melo-melo, yaitu jelas sejelas-jelasnya.

Memang, kalau kita bicara soal seks dan seksualitas, mungkin lebih mengenal Kamasutra dari India daripada Serat Centhini, karya sástra Jawa kuno, yang dirilis di awal abad ke-19. Padahal  versi lokal ini dipercaya jauh lebih lengkap dan “menantang”. Tak ada yang bisa memungkiri, urusan seks dari abad ke abad selalu saja menarik untuk dibicarakan. Entah dengan bisik-bisik di antara kaum lelaki di warung kopi, atau di antara kaum perempuan di sela-sela arisan. Adakalanya dibicarakan secara terbuka tapi terbatas, seperti di ruang seminar atau kesempatan formal lainnya.

Seks dan seksualitas, dalam pengertian sempit maupun luas, merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Ia bagian dari naluri instingtif yang paling dasar.Tak heran kalau banyak upaya dilakukan untuk mempelajari, menganalisis, menyusun panduan, atau mengungkapkannya lewat karya sastra maupun karya tulis lainnya sejak dahulu kala.

Serat Centhini atau Suluk Tembangraras, digubah pada sekitar 1815 oleh tiga orang pujangga istana Keraton Surakarta, yaitu Yasadipura 11, Ranggasutrasna, dan R. Ng. Sastradipura (Haji Ahmad Ilhar) atas perintah K.G.P.A.A. Amengkunegara II atau Sinuhun Paku Buwana V.Serat Centhini yang terdiri atas 722 tembang (lagu Jawa) itu antara lain memang bicara soal seks dan seksualitas. Justru karena itulah serat ini menjadi terkenal, bahkan di kalangan para pakar dunia.

Meski kebudayaan Jawa di masa kejayaan keraton bersifat represif-feodalistik, demikian tulis Otto Sukatno CR dalam Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa (Bentang, 2002), namun dalam bidang seksual ternyata sangat jauh dari apa yang kita bayangkan. Masalah seksualitas muncul dalam ekspresi seni, terutama sastra dan tari.

Dalam Serat Centhini, misalnya, masalah seksual ternyata menjadi tema sentral yang diungkap secara verbal dan terbuka, tanpa tedeng aling-aling. Bahkan, masalah seksual dalam serat itu diungkapkan dalam berbagai versi dan kasus.
Bahkan seks juga dibicarakan dalam kaitannya dengan penikmatan hidup atau pelampiasan hasrat hedonisme yaitu sebuah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kenikmatan adalah kebaikan tertinggi, atau satu-satunya kebaikan dalam kehidupan.

Dalam Centhini II (Pupuh Asmaradana) diuraikan dengan gamblang soal “ulah asmara” yang berhubungan dengan lokasi genital yang sensitif dalam kaitannya dengan permainan seks. Misalnya, cara membuka atau mempercepat orgasme bagi perempuan, serta mencegah agar lelaki tidak cepat ejakulasi. Lalu dalam Centhini IV (Pupuh Balabak) diuraikan secara blak-blakan bagaimana pratingkahing cumbana yaitu gaya persetubuhan, serta sifat-sifat perempuan dan bagaimana cara membangkitkan nafsu asmaranya.
Terungkap juga ternyata perempuan tidak selamanya bersikap lugu, pasif dalam masalah seks sebagaimana stereotipe pandangan Jawa yang selama ini kita terima. Mereka juga memiliki kebebasan yang sama dalam mengungkapkan pengalaman seksualnya. Padahal selama ini penggambaran wanita Jawa selalu bersifat pasrah, dan nrima kepada lelaki. Bahkan pemalu dan tertutup.

Hal itu tampak dalam Centhini V (Dhandhanggula). Di ruang belakang di rumah pengantin perempuan pada malam menjelang hari H perkawinan antara Syekh Amongraga dan Nike Tembangraras, para perempuan tua-muda sedang duduk-duduk sambil ngobrol. Ada yang membicarakan pengalamannya dinikahi lelaki berkali-kali, pengalaman malam pertama, serta masalah-masalah seksual lainnya yang membuat mereka tertawa cekikikan.

Artikel Di Kutip Dari:===SINI===
Read More

Rahasia Seks Wanita Menurut Kitab Jawa kuno


JokoRowoTlogoRejo-Keindahan wanita dibahas dalam banyak buku atau kitab kuno, baik di China, India, Amerika Latin, Arab maupun nusantara. Seperti primbon Jawa yang telah ditulis pujangga sejak ribuan tahun silam, hingga kini masih bisa dijadikan referensi.
Primbon Jawa sebagai produk kuno masih memiliki penggemar bahkan masih dipakai untuk mengartikan mimpi atau ramalan. Dalam primbon Jawa, pembicaraan watak manusia didasarkan banyak hal, termasuk hari lahir (weton), bentuk fisik, kesukaan atau hobi dan sebagainya.
Gairah seks wanita juga diungkap dalam primbon Jawa, didasarkan pada ciri-ciri fisiknya. Berikut ini beberapa jenis wanita yang dianalisa dari segi fisiknya terkait gairah seks.

Kunci Emas
Ciri fisik : Tubuhnya panjang, tapi kakinya agak pendek tak proposional. Rambutnya tumbuh subur tebal, demikian pula bulu rambutnya baik di tangan atau kadang kaki, dan dibagian ‘V’. Muka dan payudaranya kecil.
Wanita ini termasuk baik dan setia. Meskipun gairah seksualnya tidak menonjol, tapi ia mampu mengimbangi pasangannya. Kalau pria pasangannya memperlakukannya dengan penuh kasih, ia bisa jadi wanita yang menggairahkan. Tapi, ia cenderung tertarik pada wanita sejenis.

Bunga Restu
Ciri fisik :Tubuh besar, kukuh dan cenderung pendek. Muka dan dahinya kecil, mulutnya agak tebal, rambutnya tebal.
Ia termasuk wanita pendiam, demikian juga di tempat tidur. Ia pasif, tak peduli pada pasangannya. Pria pasangannya perlu kesabaran dan memanasinya, karena pada dasarnya ia bisa menjadi pasangan yang menyenangkan. Apalagi, menurut orang Jawa, tipe wanita ini mendatangkan rejeki.

Bintang berkerlip
Ciri fisik :Bertubuh tinggi semampai, berpinggang kecil dengan pinggul besar. Rambutnya lurus sedang, mata sayup-sayup tertutup, hidung besar.
Dari penampilan fisik, wanita ini punya sex appeal yang tinggi. Pria membayangkan ia punya gairah seks yang besar, padahal biasa-biasa saja. Ia bukan penikmat seks, tapi lebih memikirkan urusan rumah tangga dan masa depan anaknya. Ia tipe istri yang baik, setia dan tabah dalam menghadapi persoalan.

Bintang Siaga
Ciri fisik ; Tubuh sedang, tidak tinggi, tidak pendek cenderung kecil. Wajahnya bulat, bermata sayup seperti mengantuk. Mulut lebar, bibir atas lebih kecil dari bibir bawah, telinga melebar keluar.
Bukan hanya gairahnya yang kurang, tapi juga dalam hal olah asmara. Ia terlalu monoton, tidak ada keinginan untuk meningkatkan kemahiran dan belajar bagaimana menikmati seks. Seks baginya seperti kewajiban saja, sehingga pasangannya cenderung kecewa.

Seroja Bergoyang
Ciri fisik :Tubuhnya bagus, meskipun berdada kecil, tapi padat berisi. Beralis tebal, mulut kecil dengan bibir sensual. Pinggulnya tampak seksi berisi.
Secara fisik, ia sangat menarik. Tetapi secara personal, ia bukan wanita yang ceria, cenderung pemuram dan pesimistis. Ia lebih sering cemberut dibanding tertawa dan tersenyum. Pantas kalau ia tampak lebih tua dibanding umurnya. Dalam hal asmara, ia tak semenarik penampilannya. Tapi bagi pria yang egois dan butuh kecepatan, wanita ini bisa saja jadi pasangan yang cocok. Apalagi, Si Seroja bergoyang ini bukan tipe penuntut.

Bunga Indah
Ciri fisik:Tubuh tinggi dengan payudara besar menelungkup ke dalam sehingga tampak indah. Kakinya juga panjang, kalau duduk sering ditumpangkan satu dengan yang lain, dan kalau berjalan lenggang lenggok. Kulitnya putih, berwajah bulat, matanya suka mengerdip indah.
Dari segi fisik, wanita ini tampak ideal. Dan ia memang tipe wanita yang setia, berbakti pada pria pasangannya, bahkan sebagian rela tak peduli pasangannya punya WIL. Memang meskipun fisik dan perilakunya mengundang hasrat besar pria, tapi tidak demikian reaksi seksualnya. Ia tipe wanita dingin, yang sekadarnya saja dalam olah asmara. Ia sudah merasa cukup dan damai kalau dicukupi kebutuhan materialnya.

Pikat Mutiara
Ciri fisik: Tinggi dengan punggung agak membungkuk, tapi berpayudara kecil. Leher panjang, dahi lebar, mulut lebar dan dari kejauhan tampak memikat.
Sebenarnya ia tipe wanita yang cerdas, kata-katanya terpilih dan penuh perhatian. Ia tipe teman yang baik. Ketidaksukaannya berterus terang, membuat olah asmaranya dingin kalau pria pasangannya tak menangkap keinginannya. Wanita mutiara ini lebih suka memberikan bahasa isyarat, sehingga pihak pria harus peka dan tanggap. Ia sebenarnya pencinta yang baik, meskipun gairahnya kecil saja. Tapi buka berarti tak ada kebahagiaan, lho.

Sri Tumurun
Ciri fisik ;Tubuh tinggi, kaki panjang, dada tipis. Mukanya bulat, kaki panjang, dada tipis. Mukanya bulat, mulut lebar, bibir tebal, rambut lemas, bertumit besar.
Meskipun tinggi semampai, sex appeal-nya rendah. Ia lebih menarik menjadi teman karena ia ramah, sopan dan pandai bertutur kata. Sebenarnya, ia tipe istri yang baik karena jenis subur dan membawa berkah. Dalam kultur Jawa, ia adalah titisan Sri, Dewa Padi. Tapi dalam olah asmara, wanita Sri ini cenderung dingin, bahkan frigid. Pria pasangannya sering dibuatnya jengkel dan kesal karena itu. Dan Sri tidak begitu peduli.

Artikel Di Kutip Dari:===SINI===
Read More